Irjen Pol (Purn) Armed Wijaya Temui Sultan Melayu Jambi ke-22, Sejarah Dijadikan Fondasi Kebangkitan Daerah

Irjen Pol (Purn) Armed Wijaya Temui Sultan Melayu Jambi ke-22, Sejarah Dijadikan Fondasi Kebangkitan Daerah

 

JAMBI | JendelaJambi.net — Upaya menempatkan sejarah sebagai fondasi pembangunan kembali mengemuka dalam silaturahmi Irjen Pol (Purn) Armed Wijaya dengan Sultan Melayu Jambi ke-22, Sultan Sayyid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah. Pertemuan berlangsung di kediaman Sultan, Sabtu malam (25/1/2026) ba’da Isya, dalam suasana dialog terbuka dan sarat nilai historis.

 

Mantan Kapolda Bengkulu tersebut datang untuk menggali langsung jejak sejarah Kesultanan Melayu Jambi Darul Haq, sekaligus memahami peran strategis institusi kesultanan dalam perjalanan peradaban Jambi.

 

Sejumlah tokoh yang konsisten mengawal kajian sejarah Jambi turut hadir, di antaranya Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Jambi Hari Fajar Krisna, peneliti sejarah Dr. Yusdi Anra, serta pemerhati sejarah Putro Legowo.

 

Dalam dialog tersebut, Armed Wijaya menyampaikan ketertarikannya pada figur Sultan Melayu Jambi ke-22 yang dinilainya kini tidak hanya dikenal di daerah, tetapi juga mulai diperhitungkan di tingkat nasional.

 

“Ketertarikan saya berangkat dari eksistensi Sultan Jambi hari ini. Dari situ saya ingin memahami lebih dalam peran raja-raja dan sultan Jambi dalam sejarah Nusantara,” ungkap Armed Wijaya.

Peneliti sejarah Jambi, Dr. Yusdi Anra, menjelaskan bahwa penetapan Sultan Sayyid Fuad sebagai Sultan Melayu Jambi ke-22 bukan klaim sepihak, melainkan hasil riset akademik panjang yang telah dilakukan selama lebih dari dua dekade.

 

Peneliti sejarah Jambi, Dr. Yusdi Anra, menjelaskan bahwa penetapan Sultan Sayyid Fuad sebagai Sultan Melayu Jambi ke-22 bukan klaim sepihak, melainkan hasil riset akademik panjang yang telah dilakukan selama lebih dari dua dekade.

 

“Secara akademis, silsilah Sultan Fuad tersambung hingga Sultan Thaha Saifuddin. Ini bukan proses singkat, melainkan kajian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Yusdi.

 

Sementara itu, Putro Legowo menambahkan bahwa Kesultanan Melayu Jambi hingga kini masih memelihara berbagai peninggalan bersejarah, baik berupa benda pusaka maupun arsip penting yang menjadi bukti keberlanjutan kesultanan.

 

“Beberapa peninggalan penting yang dijaga antara lain milik Sultan Thaha, Pangeran Ratu, dan Ratu Halijah, termasuk stempel Sultan Thaha yang memiliki relasi historis dengan Turki Utsmani,” ujarnya.

 

Hari Fajar Krisna dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa Kesultanan Melayu Jambi bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bagian dari identitas kolektif masyarakat Jambi yang perlu dirawat dan dilestarikan.

 

“Sejarah Kesultanan Melayu Jambi adalah simbol kebesaran dan kedaulatan Melayu Jambi. Ini harus dijaga agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya,” kata Hari Fajar.

 

Menanggapi hal tersebut, Sultan Sayyid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah menegaskan bahwa kebangkitan Jambi tidak bisa dilepaskan dari penempatan sejarah pada posisi yang semestinya.

 

“Jika Jambi ingin bangkit, maka sejarah harus dijadikan tonggak. Sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi menjadi dasar dalam menentukan arah dan kebijakan daerah,” tegas Sultan Fuad.

 

Ia juga menegaskan bahwa Kesultanan Melayu Jambi di masa kini bersikap terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen, demi pembangunan Jambi yang berakar pada jati diri Melayu.

 

“Kesultanan Melayu Jambi siap berkolaborasi demi kemajuan Jambi,” pungkasnya. (Dd)

More From Author

Terduga Pelaku Penganiayaan Maut di Air Hangat Timur Berhasil Diringkus Dalam Hitungan Jam

Masyarakat Meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci Segera Mencari Sulusi Untuk Menghentikan Kebakaran Hutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

Subscribe

Email
The form has been submitted successfully!
There has been some error while submitting the form. Please verify all form fields again.

Recent Post