KONTROVERSI DI SEPAKBOLA KERINCI: PSSI KABUPATEN KERINCI DIDUGA SANKSI 3 PEMAIN BERBAKAT GARA-GARA TOLAK BELA KERINCI DI GUBERNUR CUP 2026

KONTROVERSI DI SEPAKBOLA KERINCI: PSSI KABUPATEN KERINCI DIDUGA SANKSI 3 PEMAIN BERBAKAT GARA-GARA TOLAK BELA KERINCI DI GUBERNUR CUP 2026

KERINCI_ jendelajambi.net,Dunia sepak bola Kabupaten Kerinci kembali menjadi sorotan. Pengurus PSSI Kabupaten Kerinci diduga memberikan sanksi larangan bermain kepada tiga pemain berbakat, yakni *A.E. RIFKI, JAKER FEBDINI, dan PINO RAMANDA*.

Sanksi tersebut dinilai janggal dan tidak berdasar. Hal ini disampaikan langsung oleh salah satu pemain yang terkena sanksi.

*Sanksi Tanpa Landasan Hukum dan Surat Resmi*

Menurut A.E. Rifki, sanksi yang diberikan PSSI Kerinci tidak memiliki dasar yang jelas. Seharusnya, pemberian sanksi kepada pemain harus didasari oleh pelanggaran kontrak atau perjanjian yang telah disepakati.

“Yang lucunya, pengurus PSSI Kerinci memberikan sanksi tanpa adanya landasan tersebut. Mereka hanya menekan karena kami tidak mau atau tidak bersedia membela Kabupaten Kerinci di ajang Gubernur Cup 2026,” ujar Rifki.

Ia juga mengungkapkan kejanggalan lain, hingga saat ini ketiganya belum pernah menerima surat sanksi secara resmi. Sanksi hanya disampaikan secara lisan dengan bahasa yang ambigu saat _Technical Meeting_ Bupati Cup II.

“Seolah-olah nanti ketika turnamen dimulai, PSSI akan membenturkan panitia dan klub yang mendaftarkan pemain tersebut,” tambahnya.

*Dua Pemain Ber-KTP Luar Kerinci Ikut Disanksi*

Kejanggalan semakin terlihat karena dua dari tiga pemain yang disanksi, yaitu A.E. Rifki dan Pino Ramanda, merupakan pemegang KTP luar daerah Kabupaten Kerinci.

Untuk pendaftaran di Bupati Cup II, keduanya bahkan akan masuk kuota pemain luar daerah, yang memang diperbolehkan oleh panitia. Setiap tim diberikan kuota untuk pemain luar daerah berpartisipasi.

“Lantas mengapa saya dan Pino disanksi? Kejurkab kami tidak bermain karena sadar kami bukan pemegang KTP Kab Kerinci,” tegas Rifki.

Ia menyayangkan sikap pengurus yang seharusnya memanfaatkan bakat pemain, bukan malah mematikan karir mereka.

“Harusnya ini jadi bahan pembelajaran ke depannya, kalau memberikan sanksi jelaskan dasarnya terlebih dahulu, baik secara aturan atau kontrak-kontrak yang diberikan ke pemain. Tidakkah malu sebagai pengurus memberikan sanksi hanya karena pemain tidak mau membela klub yang di bawah kepengurusannya?”

Rifki menambahkan, “NOTED: Pemain hanya membutuhkan kepastian ketika bermain.”

Hingga berita ini diturunkan, media ini masih berupaya meminta klarifikasi resmi dari Pengurus PSSI Kabupaten Kerinci terkait dasar dan bentuk sanksi yang diberikan kepada ketiga pemain tersebut.

(Tim)

More From Author

Duduk Satu Mobil, Evalina Saksikan Perjuangan Gibran Melawan Penyakit: “Dak Tega Melihatnya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

Subscribe

Email
The form has been submitted successfully!
There has been some error while submitting the form. Please verify all form fields again.

Recent Post